"Mencerdaskan Bangsa Melalui Teknologi Pendidikan..."

Senin, 12 November 2012

UAS Pengembangan PSB



 
 UJIAN AKHIR SEMESTER

Mata Kuliah   : Pengembangan Pusat Sumber Belajar
Dosen            : Dr. Hartono, M.A.
                      : Dr. Nyayu Khodijah, M.Si.

Nama:  Surya Hanapi
NIM : 20102813017

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2012


1.      Berikan satu contoh pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar pada satu mata pelajaran (yang menjadi bidang tugas anda) untuk mencapai satu Kompetensi Dasar (KD) tertentu!
JAWABAN:
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.

Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.
Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.
Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.
Sebagai contoh pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar pada mata pelajaran produktif dengan kompetensi dasar mengidentifikasi sistem starter. Dimana untuk memperdalam materi fungsi dan komponennya dengan mendatangkan teknisi dari dealer resmi Mitsubishi dan paham akan materi tersebut sesuai dengan spesifikasi pabrik kendaraan tersebut. Menghadirkan nara sumber tersebut ke dalam bengkel pada waktu jam pelajaran. Disamping itu guru kita ikut bantu menyediakan alat-alat yang dibutuhkan demi kelancaran proses pembelajaran untuk mencapai pemahaman kompetensi yang diharapkan

2.      Secara ideal, ada 5 fungsi PSB. Jelaskan dan berikan contoh kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan oleh PSB dalam melaksanakan kelima fungsi tersebut!
JAWABAN:
Fungsi-fungsi PSB terdiri dari; fungsi Administratif, Fungsi Pengembangan Sistem Instruksional, Fungsi Pelayanan Media Pembelajaran, Fungsi Produksi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan PSB dalam melaksanakan fungsi-fungsi PSB antara lain:
a.      Fungsi Pengembangan Sistem Instruksional.
Fungsi ini  membantu lembaga atau para guru/fasilitator secara individual dalam membuat rancangan (desain) dan memilih alternative untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.Kegiatan yang dilakukan untuk merealisasikan fungsi ini adalah:
·         Menyusun kontrak atau jadwal pembelajaran;
·         Identifikasi pilihan pembelajaran;
·         Pemilihan peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran;
·         Pelatihan pengembangan sistem pembelajaran bagi para guru;
·         Merencanakan program media;
·         Membuat instrument evaluasi sistem pembelajaran;
·         Merevisi program; dan lain-lain

b.      Fungsi Pelayanan Media Pembelajaran
Fungsi ini berkaitan dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan oleh staf pengajar dan peserta didik. Kegiatan yang dilakukan antara lain:
·         Pemanfaatan media pembelajaran, baik secara individual, kelompok kecil maupun kelompok besar.
·         Pelayanan perpustakaan baik cetak maupun non cetak;
·         Pelayanan pemeliharaan peralatan dan bahan;
·         Pelayanan pembelian bahan-bahan dan peralatan;
·         Pelayanan konsultasi; dan lain-lain.
Pelayanan yang diberikan dalam kaitan ini sesungguhnya sama dengan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan di dalam membantu guru dan peserta belajar/siswa berupa peminjaman bahan-bahan cetakan untuk memudahkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Bahan-bahan yang dikoleksi Pusat Sumber Belajar yang dimanfaatkan baik oleh guru maupun peserta belajar dapat dibeli di tempat-tempat yang menjual bahan atau media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah/madrasah misalnya toko buku, toko VCD dan atau kaset rekaman audio/video, atau dapat diperoleh melalui hibah dari lembaga-lembaga yang ada hubungannya dengan pendidikan/sekolah/madrasah seperti departemen, kedutaan luar negeri, dan sebagainya. Dalam jangka panjang tentunya PSB sendiri harus makin bertumbuh sehingga mempunyai kemampuan sendiri untuk memproduksi berbagai jenis media dan bahan belajar yang benar-benar dibutuhkan sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

c.       Fungsi Pelatihan
Fungsi ini berhubungan dengan upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) baik untuk pengelola PSB maupun masyarakat pengguna.
Fungsi pelatihan ditujukan untuk membantu para guru yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi dan mengembangkan bahan belajar/media pembelajaran

d.      Fungsi Produksi
Fungsi ini berhubungan dengan penyediaan bahan pembelajaran atau media pembelajaran yang belum tersedia atau tidak dapat diperoleh dari pasaran. Kegiatan untuk melaksanakan fungsi ini dapat dilakukan antara lain:
·         Membuat program media audio pembelajaran;
·         Membuat program media video pembelajaran;
·         Pengembangan sistem jaringan televisi sekolah atau kampus;
·         Pembuatan media transparansi untuk OHP;
·         Produksi photografi (slide, film strip);
·         Reproduksi photografi; pengembangan program CAI atau multimedia;
·         Pengembangan program pembelajaran melalui internet; dan lain-lain.

e.       Fungsi Administrasi
Fungsi ini berhubungan dengan pengelolaan dan cara-cara pencapaian tujuan dan prioritas program yang akan dilaksanakan serta akan melibatkan semua staf dan pengguna PSB. Kegiatan yang dilakukan untuk menunjang fungsi ini antara lain:
·         Supervisi terhadap tenaga media;
·         Pengembangan koleksi media pembelajaran;
·         Pengembangan tenaga untuk menangani fasilitas baru;
·         Penyusunan rencana dan program PSB;
·         Pengembangan sistem informasi tentang koleksi media pembelajaran yang ada;
·         Pemeliharaan kelangsungan pelayanan produksi media pembelajaran;
·         Pemeliharaan bahan, peralatan dan fasilitas
·         Penyusunan laporan program atau kegiatan PSB.
3.      Model PSB di sekolah yang ideal adalah PSB Type A. Deskripsikan kondisi perpustakaan di salah satu sekolah yang anda kenal (sekolah tempat anda bertugas) dan jelaskan hal-hal apa saja yang harus dilengkapi dalam  rangka menjadi PSB type A!
JAWABAN :
Pusat Sumber Belajar (PSB) merupakan pemusatan secara terpadu berbagai sumber belajar yang meliputi orang, bahan, peralatan, fasilitas lingkungan, tujuan dan proses. Secara umum PSB berisi komponen-komponen perpustakaan, pelayanan audio-visual, peralatan dan produksi, tempat berlatih mengembangkan kegiatan program instruksional dan tempat mengembangkan alat-alat bantu dalam pengembangan sistem instruksional. Aspek penting dalam pengelolaan ini adalah peralatan, kepemimpinann, dan struktur administrasi lembaga, yang tercermin dalam struktur organisasi. Secara lengkap berikut analisis saya tentang keberadaan Pusat Sumber Belajar di SMK Negeri 3 Lubuklnggau :
















PERBANDINGAN KONDISI IDEAL PSB TYPE A DAN KONDISI PENGELOLAAN SUMBER BELAJAR DI SMK NEGERI 3 LUBUKLINGGAU
NO
PSB (IDEAL) TYPE A
KONDISI SMK NEGERI 3 LUBUKLINGGAU
STRUKTUR ORGANISASI
1
KETENAGAAN
2
Ketenagaan PSB Tipe A
  1. Seorang penanggungjawab PSB (kepala sekolah);
  2. seorang koordinator PSB;
  3. seorang tenaga administrasi;
  4. seorang ketua unit pelayanan dan pemeliharaan dibantu pengelola perpustakaan, laboratorium, dan bengkel kerja sesuai kebutuhan sekolah ;
  5. seorang ketua unit pengembangan sistem dibantu beberapa tenaga yang memiliki kompetensi di bidang desain pembelajaran, materi pelajaran, dan media;
  6. seorang Ketua Unit Pengembangan Media dibantu oleh beberapa tenaga yang memiliki keahlian di bidang media cetak, audiovisual, audio, grafis, dan multimedia.
Ketenagaan pada perpustakaan SMK Negeri 3 Lubuklinggau antara lain :
§ 1 (satu) orang kepala perpustakaan yang berkualifikasi pendidikan S1 Pendidikan (Pendidikan Kimia).
§   3 (tiga) orang tenaga perpustakaan yang terdiri dari :
(1).   2 (dua) orang bertugas dalam pelayanan teknis, yaitu :
       - 1 (satu) orang berkualifikasi pendidikan S1 Pendidikan (Pendidikan Bahasa                                                       Indonesia).
       - 1 (satu) orang berkualifikasi pendidikan S1 Ekonomi (Ekonomi Manajemen).
(2).   1 (satu) orang bertugas dalam pelayanan pengguna dengan kualifikasi pendidikan SMA.       

SARANA DAN PRASARANA
3
Ruangan PSB Berbasis Sekolah Tipe A :
a.  Katalog/resepsionis;
b.  Pimpinan/koordinator;
c.   Sekretariat;
d.  Informasi;
e.  Pengembangan Pembelajaran (Instruksional);
f.    Pengembangan Media;
g.  Evaluasi Produk Media;
h.  Peminjaman dan Penyimpanan;
i.    Laboratorium;
j.    Laboratorium multimedia dan internet; ..
k.   Bengkel/Praktek (untuk SMK);
l.    Pelatihan;
m.   Perpustakaan;
n.  Presentasi Media Audiovisual.
Ruang yang  berkaitan dengan “Pusat Sumber Belajar” di SMK NEGERI 3 Lubuklinggau :
a.   Ruang  repsionis sekolah
b.   Ruang Kepala Sekolah
c.    2 Ruang Wakil Kepala Sekolah
d.   8 Ruang Bengkel (TKR, TSM, TAV, TKJ, TGB, Komputer, Gambar, Bahasa)
e.   1 Ruang Perpustakaan
f.     1 Ruang Meeting
g.   1 Ruang Guru
h.   1 Ruang Gudang
i.     1 Ruang Server

4
Peralatan Pendukung PSB Berbasis Sekolah Tipe A :
Ø  Peralatan Pendukung
a.  Rak-rak buku;
b.  Lemari katalog;
c.   Meja dan kursi baca;
d.  Meja peminjaman;
e.  Meja pelayanan pengguna (front office);
f.    Meubeler berupa sofa; dan
g.  Meja dan kursi untuk petugas.

Ø  Peralatan Media:
  1. Peralatan Produksi Media: (Kamera foto; Kamera video; Video editing)
  2. Komputer animasi;
  3. Peralatan perekam audio; dan
  4. Peralatan produksi untuk media grafis.

Ø  Peralatan Penyaji (hardware):
  1. TV Monitor;
  2. VCD/DVD Player;
  3. Radio Tape Recorder;
  4.  OHP;
  5. LCD;
  6. Komputer; dan Proyektor Slide.
Ø  Peralatan Laboratorium untuk Biologi, Fisika, Kimia, dan Bahasa.
Ø  Bahan Ajar (Software)
  1. Media cetak (buku, jurnal, hasil penelitian, dll).
  2. Media non-cetak (audio, video, CD pembelajaran, CAI).
  3. Media realia model/tiruan, specimen.
Peralatan pendukung di SMK Negeri 3 Lubuklinggau yang sudah dimiliki :
1.      Rak-rak buku; Lemari katalog; Meja dan kursi baca; Meja peminjaman; Meja pelayanan pengguna (front office); Meubeler berupa sofa; dan Meja dan kursi untuk petugas. Semuanya berada di ruang perpustakaan;
2.      Peralatan media semua berada di ruang TRRC dengan rincian sebagai berikut:
a.      Kamera Video standar broadcast 1 buah
b.      Kamera handycame 2 buah
c.       Kamera foto digital 2 buah
d.      Komputer editing multimedia 1 unit
3.      Peralatan penyaji dikoordinasi oleh Waka Sarpras dengan rincian sebagai berikut :
a.      Laptop (semua guru yang berkenan di pinjami laptop)
b.      LCD Projector setiap kelas belum tersedia dan ada beberapa LCD yang standby di ruang bengkel yang bisa digunakan guru sewaktu waktu
c.       Komputer di ruang waka, TU, dan lab Komputer
d.      TV dan audio system di ruang Guru, dan resepsionis
4.      Peralatan Bengkel yang tersedia masih kurang lengkap tiap bengkel
Ø  Bahan Ajar (Software)
  1. Media cetak (buku, jurnal, hasil penelitian, dll) berada di ruang  Perpustakaan)
  2. Media non-cetak (audio, video, CD pembelajaran, CAI) berada di ruang Perpustakaan.
  3. Media realia model/tiruan, specimen berada di ruang Bengkel masing-masing kejuruan.


Dengan perbandingan tersebut diatas, secara garis besar dapat di simpulkan sebagai berikut:
1.      Di SMK Negeri 3 Lubuklinggau  Pusat Sumber Belajar tidak di sebutkan secara jelas, namun demikian fungsi-fungsi PSB sudah dijalankan tetapi belum terintegrasi dengan baik. Sebagai contoh,  Di SMK Negeri 3 Lubuklinggau masih jauh dengan fungsi pengembangan type A. Sehingga perlu dilakukan penyesuaian menjadi Pusat Sumber Belajar;
2.      Pengorganisasian sumber belajar masih secara terpisah sesuai dengan bidang masing-masing,  sehingga  kadang ada salah satu bidang yang maju tetapi disatu sisi masih ada yang belum jalan. Menurut saya hal ini salah satunya disebabkan oleh tidak adanya koordinasai dalam pengelolaan sumber belajar secara terintegrasi.  Walaupun  secara terpisah, sebaiknya perlu dibentuk satu unit yang mengorganisasikan pengelolaan sumber belajar secara terintegrasi;
3.      Menurut hemat saya, fasilitas ruangan yang di SMK Negeri 3 Lubuklinggau sudah ideal, sehingga pada prinsipnya tidak mengalami kendala dalam menjalankan fungsi PSB secara ideal, misalnya pada ruang meeting dan ruang Perpustakaan memungkinkan sekali guru/warga sekolah untuk mengembangkan dan mengevaluasi media. Peminjaman Alat peraga dan media dipusatkan perbidang, misal tentang fisika, ruang Laboratorium sangat memungkinkan untuk peminjaman dan penyimpanan media  tentang fisika dan lain sebagainya. Pada prinsipnya ruang yang ada di SMK Negeri 3 Lubuklinggau tidak mengalami kendala dalam menjalankan fungsi PSB secara ideal;
4.      Menurut hemat saya, peralatan  yang ada di SMK Negeri 3 Lubuklinggau sudah ideal, sehingga pada prinsipnya tidak mengalami kendala dalam menjalankan fungsi PSB secara ideal, misalnya pada ruang meeting dan ruang Perpustakaan memungkinkan sekali guru/warga sekolah untuk memproduksi media pembelajaran. Peminjaman Alat peraga dan media dipusatkan perbidang, misal tentang fisika, ruang Laboratorium sangat memungkinkan untuk peminjaman dan penyimpanan media  tentang fisika dan lain sebagainya. Pada prinsipnya peralatan yang ada di SMK Negeri 3 Lubuklinggau tidak mengalami kendala dalam menjalankan fungsi PSB secara ideal. Namun satu yang perlu dilakukan agar lebih optimal adalah adanya koordinasi antar bidang untuk menjalankan fungsi masing-masing secara optimal.







4.      Berikan satu contoh sumber belajar atau pusat sumber belajar terkini di sekolah anda dan lakukan evaluasi terhadap pemanfaatan dan pengelolaannya!
JAWABAN:
Keberadaan perpustakaan sekolah di lingkungan sekolah masih kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya pertumbuhan perpustakaan pada lembaga pendidikan, khususnya pada tingkat Pendidikan Menengah dan Pendidikan Dasar. Dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa dari 50 sekolah yang diteliti, ternyata 8 sekolah diantaranya tidak mempunyai perpustakaan. bagaimana siswa dapat menghasilkan karya dan mengukir prestasi jika di sekolahnya tidak tersedia perpustakaan? Kondisi ini menyiratkan bahwa perhatian penentu kebijakan di lingkungan sekolah belum memprioritaskan perpustakaan sekolah sebagai program sekolah yang perlu diperhatikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu dalam kurikulum tahun 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyiratkan perlunya peningkatan peran perpustakaan sekolah sebagai penunjang kegiatan belajar siswa dan guru. Kurikulum tingkat satuan pendidikan menuntut guru untuk lebih aktif dalam mengembangkan pembelajaran khususnya dalam mengembangkan indikator pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu pada setiap satuan unit sekolah perlu didukung adanya perpustakaan yang mampu berfungsi dengan baik.
Secara sederhana pengertian perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan bukan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (guru, siswa, dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dari pengertian tersebut, hakikat perpustakaan adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Melalui penyediaan perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Melalui perpustakaan siswa dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan. Secara umum perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaanya dengan pertimbangan bahwa:
1.    perpustakaan merupakan sumber belajar,
2.    merupakan salah satu komponen sistem instruksional,
3.    sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran,
4.    sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan siswa dapat mempertajam dan memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berpikir dan berkomunikasi.
Jika dikaitkan dengan pengertian sumber belajar, maka perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah.
Mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan oleh Association for Education Communication Technology (AECT) maka pengertian sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Ditinjau dari segi pendayagunaan, AECT membedakan sumber belajar menjadi dua macam yaitu:
1.    sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar  untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang memang dirancang untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran tertentu,
2.    sumber belajar yang tidak dirancang atau tidak sengaja dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak terdapat disekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar, museum.
Mengacu pada definisi AECT tentang sumber belajar, maka sumber belajar jenis pertama yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk membantu pencapaian tujuan belajar perlu disimpan untuk didayagunakan secara maksimal. Penyimpanan berbagai sumber belajar tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. Dengan demikian maka perpustakaan merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga, termasuk sekolah guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran.
Evaluasi Pemanfaatan dan Pengelolaannya
Kelembagaan Perpustakaan Sekolah
Sebenarnya yang paling hakiki dari perpustakaan adalah bagaimana menciptakan kondisi di sekolah melalui perpustakaan agar dapat membantu warga sekolah dalam proses belajar mengajar. Lebih jauh diharapkan perpustakaan sekolah dapat menciptakan atmosfir sekolah yang kondusif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Melalui perpustakaan sekolah dapat mendorong tumbuhnya daya kreasi dan imajinasi anak melalui berbagai bacaan yang tersedia di perpustakaan. Untuk bisa menciptakan kondisi tersebut kelembagaaan perpustakaan sekolah haruslah dapat mendukung peran dan tugas yang harus diembannya. Secara umum kelembagaan perpustakaan sekolah masih mengalami kendala yang disebabkan berbagai faktor sebagai berikut:
1.    Belum dipikirkannya posisi perpustakaan sekolah sebagai unit yang strategis dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah.
2.    Minimnya dana operasional pengelolaan dan pembinaan perpustakaan sekolah,
3.    Terbatasnya sumber daya manusia, dan bahkan amat terbatasnya sumber daya manusia yang mampu mengelola perpustakaan serta mengembangkannnya sebagai sumber belajara bagi siswa dan guru,
4.    Lemahnya koleksi perpustakaan sekolah. Pada umumnya perpustakaan sekolah terdiri dari buku pelajaran yang merupakan droping dari pemerintah,
5.    Minat baca siswa yang masih belum menggembirakan, walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai program seperti bulan buku nasional, hari aksara, wakaf buku dan sebagainya,
6.    Kepedulian penentu kebijakan terhadap perpustakaan masih kurang, bahkan keberadaan perpustakaan hanya sebagai pelengkap,
7.    Masih kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan termasuk dalam hal ini adalah ruang perpustakaan sekolah.
8.    Belum adanya jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi dengan kurikulum,
9.    Kegiatan belajar mengajar belum memanfaatkan perpustakaan secara maksimal dalam arti guru “tidak terlalu sering” memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terkait dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah.
Untuk mengatasi masalah tersebut perpustakaan memang perlu mendapat perhatian. Sekolah perlu melakukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat berjalan paling tidak sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Standar yang telah dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional perlu dijadikan acuan. Namun itu semua perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah. Ada beberapa cara mengatasi atau boleh dikatakan menyiasati dari kondisi yang kurang mendukung. Misalnya masalah ruangan perpustakaan dan tenaga pengelola. Dengan segala keterbatasanya, banyak sekolah yang telah memiliki fasilitas ruang perpustakaan, namun juga banyak sekolah yang belum memiliki ruangan perpustakaan. Untuk mengatasi masalah belum adanya ruang perpustakaan, koleksi di pindahkan ke kelas yang mencerminkan kebutuhan kelas dan dibawah pengawasan wali kelas. Pada kondisi ini diperlukan kedisiplinan administrasi agar buku dapat dikontrol setiap saat. Siapa yang meminjam dan kapan harus kembali. Konsep perpustakaan kelas sudah diterapkan di beberapa sekolah yang tidak memiliki ruangan perpustakaan. Masalah dana misalnya, dapat diatasi dengan mengadakan kerjasama dengan Komite Sekolah. Perlu adanya  pendekatan dengan Komite Sekolah dan menyampaikan program-program sekolah termasuk didalamnya adalah program pengembangan perpustakaan. Perpustakaan perlu mendapat dukungan dana tetap dari Komite Sekolah sehingga koleksinya dapat ditambah setiap periode tertentu. Tanpa ada penyegaran koleksi perpustakaan menjadi kering dan kurang menarik minat siswa untuk datang dan memanfaatkannya.
Beberapa pakar bidang perpustakaan mengatakan mendirikan perpustaakaan itu mudah, tetapi untuk menjaga kelangsunganya diperlukan kerja serius dengan program yang jelas dan terarah. Karena dalam pelaksanannya banyak tantangan dan itu harus diatasi agar perpustakaan terus dapat berfungsi sebagai sumber belajar.
Strategi Pengembangan Perpustakaan Sekolah
Melihat fungsi perpustakaan yang demikian penting dan adanya  kenyatan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah belum berjalan dengan baik, untuk itu diperlukan srategi pengembangan perpustakaan sekolah dengan baik. Tentunya pengembangan perpustakaan sekolah harus berangkat dari inisiatif sekolah itu sendiri. Adapun optimalisasi peran perpustakaan melalui pengembangan perpustakaan sekolah meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.    Status organisasi, perlu ada pemantapam status organisasi perpustakaan sekolah,
2.    Pembiayaan, perlu adanya anggaran yang memadahi yang dapat digunakan untuk operasional perpustakaan sekolah,
3.    Gedung dan atau ruang perpustakaan, perlu ada ruangan yang representatif sehingga keberadaan perpustakaan sekolah mampu menunjang kegiatan KBM di sekolah,
4.    Koleksi bahan pustaka,  perlu disesuaikan dengan kebutuhan minimun sekolah yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.
5.    Peralatan dan perlengkapan, perlu disesuiakan dengan kebutuhan perpustakaan sekolah sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik
6.    Tenaga perpustakaan, mempunyai kualifikasi yang memadahi untuk pengelolaan perpustakaan sekolah.
7.    Layanan perpustakaan, disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jika mungkin ada layanan diluar jam-jam belajar siswa, sehingga siswa dapat memanfaaatkan perpustakaan dengan baik.
8.    Promosi, perlu dilakukan dengan berbagai cara agar perpustakaan menarik bagi siswa.
Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah
Dari berbagai jenis perpustakaan,  perpustakaan sekolahlah yang  paling banyak mendapat sorotan, karena dinilai oleh banyak pihak masih perlu mendapat perhatian. Hal  senada pernah dinyatakan oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI bahwa perpustakaan sekolah perlu mendapat perhatian dari pihak yang berkompeten, karena secara umum keberadaanya belum berfungsi sebagaimana mestinya.
Jika perpustakaan sekolah akan difungsikan sebagai penunjang proses belajar siswa, maka perlu ada upaya untuk lebih mendayagunakan perpustakaan tersebut. Berikut ini beberapa cara untuk lebih memberdayakan keberadaan perpustakaan di lingkungan sekolah:
1.    perlu upaya untuk menciptakan “penguatan kelembagaan” terhadap perpustakaan sekolah,
2.    perlunya diciptakan pengajaran yang terkait dengan pemanfaatan fasilitas yang tersedia di perpustakaan,
3.    perlu upaya melibatkan guru dalam pemilihan koleksi perpustakaan yang akan dibeli, sehingga guru tahu koleksi yang dimiliki perpustakaan,
4.    promosi dan pemasyarakatan perpustakaan dengan mengambil even-even khusus seperti pada hari peringatan nasional,
5.    perlu diupayakan adanya jam belajar di perpustakaan, sehingga siswa terbiasa memanfaatkan perpustakaan,
6.    perlunya pemberian rangsangan kepada siswa agar termotivasi untuk memanfaatkan perpustakaan, misalnya penghargaan terhadap siswa yang meminjam buku paling banyak dalam kurun waktu tertentu.
Pengembangan Kebiasaan Membaca melalui Perpustakaan Sekolah
Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan atmosfir sekolah yang menunjang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca siswa. Diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan kegemaran membaca siswa akan berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca. Keterampilan membaca dan dan kegemaran membaca memiliki hubungan yang saling mendukung. Upaya-upaya peningkatan minat membaca perlu dilakukan baik oleh guru dengan tujuan agar siswa mempunyai kemauan untuk melakukan kegiatan membaca sesering mungkin di luar kelas.
Pada lingkungan sekolah perpustakaan mempunyai peran yang sangat strategis dalam hal penyediaan fasilitas untuk meningktkan minat baca siswa. Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh seseorang, termasuk anak-anak dalam usia sekolah. Minat baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk. Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu melibatkan unsur-unsur berikut ini: anak didik, guru sekolah, kepala sekolah, pengawas sekolah, sekolah dengan berbagai program kegiatan yang dapat menunjang pengkondisian   tumbuhnya minat dan kegemaran membaca, orang tua di rumah, lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah,  lembaga-lembaga masyarakat yang berminat terhadap pengembangan minat dan kegemaran membaca, misalnya dengan mendirikan pondok baca,serta pemerintah melalui berbagai program yang dikembangkan, seperti adanya kegiatan bulan buku nasional pada setiap bulan Mei, hari Aksara Internasional pada setiap bulan  September, hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada bulan September, kegiatan tersebut bisa dikaitkan dengan pembinaan minat dan kegemaran membaca.Sebagai contohnya Perpusda bantul selalu mengadakan lomba minat baca untuk siswa SD, SMP, SMA untuk buku-buku yang mendukung pembelajaran di sekolah.
Motivasi yang berasal dari anak merupakan dorongan yang bersifat internal, sedangkan dorongan dari pihak lainnya bersifat eksternal. Dengan kata lain bila akan merumuskan strategi peningkatan minat dan kegemaran membaca anak didik maka dua model strategi tersebut patut dipertimbangkan, yaitu model strategi yang didasarkan pada motivasi internal dan model yang digerakkan oleh motivasi eksternal.
Peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dalam segi jumlah maupun dalam kualitas bacaan. Pada aspek lain minat baca senantiasa perlu dikembangkan. Di lingkungan anak usia sekolah usaha pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan prinsip jenjang dan pikat. Prinsip pertama perlu adanya usaha untuk memikat pengguna untuk mulai menyenangi kegiatan membaca. Prinsip kedua perlu ada upaya untuk mengkondisikan perlunya penyediaan materi bacaan yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat memperkuat minat baca anak, yang senantiasa terus mendorong anak untuk maju menuju pada kegiatan membaca yang berkualitas. Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegemaran membaca siswa melalui perpustakaan adalah:
1.    Menyediakan bahan bacaan yang diminati siswa, yang sesuai dengan keragaman tingkat perkembangan anak.
2.    Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa melalui penataan yang bagus, dengan pelayanan yang ramah,
3.    Membuat promosi dan kegiatan pengembangan minat dan kegemaran membaca dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah,
4.    Memberikan tugas tambahan kepada siswa di luar kelas. Pemberian tugas tambahan ini tentunya berkaitan dengan terbatasnya jam pelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu guru sebaiknya senantiasa mendorong siswa untuk lebih banyak membaca di luar jam-jam sekolah (di rumah). Tugas membaca dapat dipantau dengan membuat laporan, resensi buku, atau membuat laporan garis besar isi buku yang telah dibacanya (sinopsis) dengan memanfaatkan bacaan yang tersedia di perpustakaan,
5.    Tersedianya waktu bagi siswa untuk berkunjung ke perpustakaan baik secara perseorangan maupun klasikal yang sekaligus merupakan jam belajar di perpustakaan.
6.    Mengintegrasikan perpustakaan dalam kegiatan belajar mengajar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar